Hukum 02 Nov 2016

Kemenlu RI Bimbing Dosen Fakultas Hukum UIR Teknik Negosiasi Perjanjian Internasional

Dekan FH UIR, Syafrinaldi menyambut baik bimtek dan simulasi ini dalam upaya memberi ajar dan memberi tahu kepada dosen dan mahasiswa tentang tata cara negosiasi perjanjian internasional. “Ini seminar dan bimtek pertama kita lakukan kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri. Ada kabar gembira juga,  bahwa Kemenlu membuka pintu bagi para mahasiswa Fakultas Hukum UIR yang ingin magang di kementerian,” kata Syafrinaldi.

 Syafrinaldi berharap, dosen dan mahasiswa dapat memanfaatkan forum bimtek dan simulasi ini secara baik. Peserta selain mendapat pengetahuan secara teoritik bagaimana memulai sebuah negosiasi dalam melahirkan perjanjian internasional, bimtek ini juga disertai dengan simulasi. “Dosen dan mahasiswa yang mengikuti bimtek dibagi ke dalam beberapa kelompok lalu, melakukan penjajakan, perundingan sampai kepada penanda-tanganan,” ulas Syafrinaldi.

 Harapan serupa juga dikatakan Krishna Adi Poetranto, pejabat Kemenlu yang banyak terlibat dalam merumuskan dan menegosiasi perjanjian internasional Indonesia dengan berbagai negara ini, banyak bercerita tentang pengalamannya dalam perundingan diplomatik. ‘’Masing-masing negara memiliki teknik negosiasi yang berbeda dalam perundingan. Ada teknik bersifat umum, ada juga yang bersifat khusus. Tekhnik mana pun yang dipakai, tujuannya cuma satu bagaimana misi sebuah negara bisa diakomodir ke dalam materi perjanjian,” kata Khrisna.

Krishna mengurai, perjanjian antar negara baik bilateral maupun multilateral tidak lahir begitu saja. Akan tetapi melalui tahapan-tahapan. Mulai dari tahapan penjajakan (preliminary), perundingan (negotiation), perumusan naskah (drafting), penerimaan (acceptance) dan terakhir penantanganan (signing). Tahapan-tahapan tersebut harus dilewati dengan penuh kesabaran dan keseriusan.

“Kadang kita juga dihadapkan dengan kendala dalam bernegosiasi. Kendala tersebut antara lain, memandang negosiasi sebagai konfrontasi, ingin menjadi pemenang, emosional, tidak dapat memahami pihak lain, focus kepada orang bukan isi, dan cendrung menyalahkan pihak lain,” tegas Khrisna.

Selain Krishna Adi Poetranto, Kasubdit Pengkajian Produk Hukum Zahermann Muhabezi, juga ikut berbagi pengalaman dalam bimtek dan simulasi ini.*

[ admin ]