Hukum 15 Mar 2018

Wah Keren, Rektor UIR Bawa Mahasiswanya Berkunjung Situs Sejarah Candi Muara Takus

Pekanbaru : Wah keren. Untuk kali pertama Prof. Dr. H. Syafrinaldi, S.H., M.C.L membawa para mahasiswanya 'beranjangsana' ke situs sejarah, Candi Muara Takus. Tak sekedar itu, Rektor Universitas Islam Riau itu juga mengajak mahasiswa mengamati dari dekat bangunan candi yang kokoh di Kelurahan Batu Bersurat Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar.

Syafrinaldi tiba di situs candi, Rabu siang (14/3) pukul 14.10 wib. Satu mobil dengan Wakil Dekan II Fakultas Hukum, Dr. Rasyidi Hamzah, Rektor yang memakai kemeja putih lengan pendek dibalut celana berwarna hitam, disambut Dekan Fakultas Hukum Dr. Admiral, S.H., MH yang lebih awal sampai. Di bawah panas cahaya matahari, Syafrinaldi bergegas masuk areal candi yang berjarak puluhan meter dari parkiran mobilnya. Ia berkunjung situs bersejarah itu ditemani sejumlah dosen, antara lain Dr. H. Arifin Bur, Dr. Thamrin S, H. Husnu Abadi, SH., MHum, PhD, Dr. Ardiansyah, Dr. Surizki Febrianto, S. Parman, S.H., MH, dan Anton Afrizal Candra, SH., SAg. Bersama rombongan Rektor juga terdapat 80 mahasiswa Fakultas Hukum yang datang menggunakan bus UIR dan berpakaian lengkap dengan jeket almamaternya.

Di areal Candi yang terbuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata ini terdapat tiga candi. Yakni Candi Tua (Tua Temple), Candi Mahligai (Mahligai Temple) dan Candi Palangka (Palangka Temple). Di masing-masing candi tersedia diskripsi yang terukir di atas batu pualam berkaki setinggi satu meter. Rektor kemudian mengamati satu persatu diskripsi itu. Lalu membacanya: ''Candi Tua, merupakan bangunan terbesar dibandingkan dengan candi lainnya, berukuran 32,80 m x 21,80 m, tinggi 8,50 m. Terletak di Kuadran Barat Laut halaman candi. Bangunan berbentuk empat persegi. Bangunan terbagi 3 (tiga), yaitu kaki, badan dan atap. Bangunan kaki terbagi dua, dengan ukuran kaki pertama tinggi 2,37 m, kedua tingi 1,98 m, dengan tinggi bangunan 8,50 m. Undakan terdapat di sisi barat dan sisi timur dengan lebar 3,08 m dan 4 m. Bagian dasar bangunan berbentuk lingkaran dengan diameter 7 m dan tinggi 2,50 m, ukuran pondasi bangunan candi 31,65 m x 20,20 m, pondasi ini memiliki 36 sisi yang mengelilingi bagian dasar. Bahan bangunan, susunan bata dan balok-balok batu pasir plester dan pelipit-pelipit tertentu. Jenis bangunan: bangunan masif, yaitu tidak mempunyai ruangan pemujaan. Fungsi bangunan adalah sebagai tempat prosesi ritual pemujaan".

Setelah membaca diskripsi itu, Rektor mencoba mencari keterangan tambahan, misalnya soal asal muasal candi dan tahun berdirinya Muara Takus. Tapi info tentang itu tidak ia temukan. ''Sayang Pak Tam tak ada info lanjutan. Soal tahun saja tidak dijelaskan disini,'' komentar Syafrinaldi kepada Thamrin. Sejurus kemudian, Profesor jebolan Munchen Jerman itu memanggil para mahasiswanya untuk mendekat ke dinding candi. Di tempat itu, ia memberi 'kultum' alias kuliah tujuh menit seputar pentingnya kita memahami asal usul candi, dan melestarikannya sebagai bagian dari cara kita mengagumi peninggalan leluhur. ''Muara Takus ini sudah berusia tua. Tempat tidak terlalu sulit ditemukan apalagi prasarana jalan menuju ke lokasi ini cukup bagus. Candi ini berbeda dengan candi-candi lain yang terdapat di Jawa,'' kata Syafrinaldi kepada para mahasiswanya.

Usai di candi pertama, ia pun berkeliling ke candi kedua dan candi ketiga. Terik panas matahari terus menyengat. Setengah jam berjalan dari satu kuadran ke kuadran lain, Rektor pun keluar dari areal candi, lalu menuju ke mobil di parkiran. ''Ice cream Pak, air dingin juga ada,'' kata penjual air menyapa Rektor dan Thamrin. Sejurus berlalu, Syafrinaldi dan rombongan bersiap meninggalkan Candi Muara Takus.*

[ Humas UIR ]